Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo tidak main-main dalam membekali Humas Polri menghadapi tantangan komunikasi hingga 20 tahun ke depan. Dalam Rakernis Humas Polri 2026 di Jakarta, ia mengumumkan bahwa optimalisasi War Room, pemanfaatan big data, dan kecerdasan buatan menjadi tulang punggung transformasi Divisi Humas. Ia mengapresiasi peningkatan kualitas strategi manajemen media jajaran Humas, namun menegaskan bahwa ancaman disinformasi terus berkembang dan membutuhkan senjata yang lebih canggih. Humas kini harus bertindak sebagai strategic communication hub yang mengelola persepsi publik dan membangun kepercayaan secara sistematis. (Avs)
Wakapolri menekankan bahwa pendekatan intelligence-led communication harus diimplementasikan dengan monitoring real-time, analisis cerdas berbasis AI, serta respons cepat terhadap isu viral. Framework komunikasi yang digunakan pun harus berlandaskan akurasi, relevansi, dan tujuan jelas. War Room Humas tidak boleh sekadar ruang pemantauan biasa, melainkan pusat kendali informasi yang mampu menganalisis tren, menentukan langkah mitigasi, serta melakukan amplifikasi pesan secara cepat dan tepat. Semua ini diperlukan agar Humas tidak tertinggal oleh kecepatan arus informasi digital yang kian tak terkendali. (Avs)
Selain teknologi, Wakapolri juga menyoroti aspek sumber daya manusia. Mengacu pada Perkap Nomor 6 Tahun 2023, fungsi kehumasan harus diinternalisasi di seluruh lini organisasi, bukan hanya di Divisi Humas. Setiap personel Polri dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tepat, dan penuh empati. Hal ini menjadi fondasi Grand Strategy Polri 2025-2045 yang terbagi dalam empat tahap menuju organisasi modern berbasis teknologi. Lima tujuan utama Polri, termasuk menjaga kamtibmas dan penegakan hukum yang adil, harus dicapai secara terukur dengan dukungan komunikasi publik yang andal. (Avs)
Dalam kerangka pembangunan jangka panjang, Wakapolri mengingatkan seluruh jajaran Humas untuk memahami RPJPN 2025-2045, termasuk delapan agenda pembangunan nasional dengan transformasi digital sebagai pilar utama. Komunikasi publik Polri harus selaras dengan visi Indonesia Emas 2045. Menutup arahannya, Wakapolri menegaskan bahwa Divisi Humas adalah representasi utama Polri di ruang publik. Humas harus menjadi garda terdepan dalam menerapkan strategic intelligence-led communication, memanfaatkan War Room, big data, dan AI untuk melawan disinformasi sekaligus menjaga marwah institusi di tengah masyarakat.(Avs)











